Tuesday, October 9, 2012

Renungan 07 Oktober 2012

Renungan Harian Katolik "Bahasa Kasih"
Minggu, 07 Oktober 2012
 

Kej 2:18-24
Mzm 128:1-6
Ibr 2:9-11
Mrk 10:2-16
 

STRATEGI DAHSYAT

Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti
seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. - Mrk 10:15
 

Perceraian merupakan suatu strategi iblis untuk meraih beberapa hal sekaligus.

Pertama, pernikahan merupakan simbol yang dipakai Tuhan dalam Perjanjian Lama tentang hubungan Tuhan dengan umatNya. Ini juga merupakan simbol Perjanjian Baru, yaitu Gereja adalah mempelai Kristus. Bahkan juga simbol Tritunggal Maha Kudus. Ketika simbol suci ini dihancurkan, kita tidak akan bisa memahami arti mengasihi, mengampuni, kesetiaan, penebusan, komitmen, melindungi, dan banyak hal lainnya.

Kedua, anak-anak harus menanggung banyak akibat negatif dari perceraian, seperti krisis identitas, krisis moral, krisis sosial, dan banyak lagi. Mereka jadi tidak tahu bagaimana mengampuni, setia, dan berkomitmen. Sungguh tepat penulis Injil menempatkan kisah Yesus menerima anak-anak sesudah Ia mengajar tentang perkawin-an. Inilah rahasianya, anak-anak adalah bagian kerajaan Allah dan bagian dari pernikahan, buah dari pernikahan.

Dalam perceraian seringkali anak-anak tidak menjadi faktor pertimbangan dan tidak dimintai pendapat. Padahal mereka akan menjadi pihak yang paling menderita. Sepintas lalu kita tidak akan melihat keanehan dalam diri mereka, apalagi kalau mereka berasal dari keluarga berada. Tetapi dalam dirinya, hanya mereka yang tahu jeritan hati mereka yang merindukan kehadiran figur ayah atau ibu dalam hidup mereka.

Keluarga harus menjadi lingkungan yang pertama dan terutama menyambut seorang anak tanpa syarat.
Mari kita mendoakan ke-utuhan bagi semua keluarga, karena hanya dari keluarga yang sehat akan tercipta gereja dan masyarakat yang sehat. (Pt) 


Bagaimana saya memandang perceraian dan anak-anak yang terpisah dari keluarga mereka?

No comments:

Post a Comment